Tidak ada batas baku kapan seseorang dapat memulai bisnisnya. Semua itu
kembali ke pribadi masing-masing. Ada yang memulainya sejak duduk di bangku
sekolah, setelah lulus kuliah, bahkan di masa pensiun. Namun, semakin dini
semakin baik sebab dengan demikian kita akan dapat memperoleh lebih banyak
pengalaman. Karena berbisnis tidak hanya membutuhkan keahlian namun juga butuh
pengalaman. Jika demikian, pertanyaannya adalah bagaimana cara memulainya?
Apakah mungkin seorang pelajar memulai bisnis ditengah kesibukannya dalam
belajar? Tentu bisa!
Bisnis adalah seni mencari peluang. Seorang pembisnis harus jeli dalam
hal ini. Peluang bisnis bisa datang darimana saja. Dalam mencari peluang kita
tidak perlu berpikir terlalu rumit, cukup perhatikan sekeliling kita apa yang
lingkungan butuhkan. Menurut saya ada 2 aspek yang harus kita pegang dalam
mencari peluang yaitu supply dan demand. Dimana ada demand
namun tidak ada supply, disitulah peluang ada. Sekalipun supply ini
sudah ada, kita masih dapat memperoleh peluang tersebut misalnya dengan
memberikan harga dan kualitas barang yang kompetitif. Agar lebih mudah
dipahami, akan saya ceritakan pengalaman saya pribadi dalam mencari peluang.
Contoh sederhana yang pernah saya alami adalah botol air mineral. Terlalu
sederhana? Tunggu sebentar, meskipun terdengar simpel namun itulah yang disebut
peluang. Jangan berpikir terlalu jauh dalam berbisnis, intinya adalah lakukan
saja dulu. Jangan berpikir mengenai keuntungan yang besar, gengsi, dan
sebagainya. Kesampingkan itu semua. Saya mencoba peluang ini saat duduk
dibangku SMA. Hal ini bermula dari banyaknya teman-teman kelas yang tidak membawa
bekal air dari rumahnya sehingga merekapun mau tidak mau membelinya dari kantin
sekolah. Apakah menguntungkan? Tentu, di paragraf selanjutnya akan saya
jabarkan bagaimana hitung-hitungannya
Air mineral yang dijual di kantin sekolah saya bermerk Pr*ma yang
notabene kurang populer dikalangan masyarakat dengan harga Rp3.000. Dengan
demikian saya dapat menawarkan merk yang lebih populer yaitu V*t dengan harga
yang sama Rp3.000. Perlu diketahui harga 24 botol (1 dus) merk V*t di kota saya
adalah Rp45.000, sehingga harga satu botolnya adalah Rp1.875. Dengan demikian setiap
botol yang terjual akan mendapatkan margin keuntungan sebesar Rp1.125.
Di sekolah saya
dalam satu kelas ada sekitar 30 murid, kita asumsikan setengah dari mereka
tidak membawa bekal air setiap harinya. Ditambah murid lain dari kelas tetangga
sebut saja ada 5 orang yang sengaja lewat untuk membeli produk kita. Sehingga
dalam satu hari diestimasikan akan terjual sebanyak 20 botol. Dalam 1 bulan
kita asumsikan ada 20 hari belajar, sehingga kita kalikan.
20 botol x 20 hari = 400 botol
Modal: 400 botol x Rp1.875 = Rp750.000
Keuntungan kotor: 400 botol x Rp3.000 = Rp1.200.000
Keuntungan bersih: Rp1.200.000 – Rp750.000 = Rp450.000
20 botol x 20 hari = 400 botol
Modal: 400 botol x Rp1.875 = Rp750.000
Keuntungan kotor: 400 botol x Rp3.000 = Rp1.200.000
Keuntungan bersih: Rp1.200.000 – Rp750.000 = Rp450.000
Bagaimana? Teman-teman dapat menghasilkan uang Rp450.000 per bulan hanya
dengan menjual air botol. Yang perlu dilakukan hanyalah mengambil paling
sedikit 1 dus setiap harinya ke sekolah. Namun jangan sampai lupa juga tujuan utama
kita kesekolah adalah belajar. Sampai jumpa di artikel selanjutnya. Semoga
bermanfaat dan salam sukses.

Komentar
Posting Komentar